PERTANGGUNGJAWABAN HUKUM FINTECH LENDING ATAS KREDIT MACET DALAM PERJANJIAN ELEKTRONIK
DOI:
https://doi.org/10.47353/bj.v6i3.502Keywords:
Legal Accountability, Fintech Lending, Non-Performing Loans, Electronic Agreement, Peer-to-Peer Lending, Financial Services AuthorityAbstract
The development of financial technology lending (fintech lending) in Indonesia has transformed the financing landscape by introducing electronic agreements as the primary legal instrument in creditor-debtor relationships. However, the increasing volume of non-performing loans in this sector raises fundamental questions regarding the legal accountability of fintech lending providers. This article aims to analyze juridically the legal accountability of fintech lending for non-performing loans arising from electronic agreements. The research method used is qualitative with a normative-empirical legal approach. Data was collected through studies of legislation, court decisions, Financial Services Authority reports, and scientific literature studies. The results show that the legal accountability of fintech lending for non-performing loans involves three crucial aspects: first, the legal status of fintech lending as an intermediary versus a party to the credit agreement; second, the distribution of responsibility among fintech lending, partner banks, and investors in the peer-to-peer lending financing structure; and third, the mechanism for resolving non-performing loans that fulfills the principle of substantive justice. This article recommends the need for clarification of the legal status of fintech lending in legislation, harmonization of obligations among parties in electronic agreements, and development of a proportional non-performing loan resolution mechanism.
Downloads
References
Arner, Douglas W., J. Barberis, dan Ross P. Buckley. (2016). The Evolution of Fintech: A New Post-Crisis Paradigm. Georgetown Journal of International Law, Vol. 47, No. 4, Hal. 1271-1319.
Asshiddiqie, Jimly. (2009). Pengantar Hukum Tata Negara Jelaskan Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.
Atmasasmita, Romli. (2012). Sistem Peradilan Pidana Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionisme. Bandung: Mandar Maju.
Bank Indonesia. (2020). Peraturan Bank Indonesia Nomor 23/11/PBI/2021 tentang Penanganan Kredit atau Pembiayaan UMKM. Jakarta: Bank Indonesia.
Cappelletti, Mauro dan Bryant Garth. (1978). Access to Justice: The Newest Wave in the Worldwide Movement to Make Rights Effective. Buffalo Law Review, Vol. 27, No. 2, Hal. 181-292.
Hadjon, Philippus M. (1987). Perlindungan Hukum bagi Rakyat di Indonesia. Surabaya: Bina Ilmu.
Indonesia Corruption Watch. (2021). Laporan Kajian Fintech Lending di Indonesia: Tantangan Regulasi dan Perlindungan Konsumen. Jakarta: Indonesia Corruption Watch.
Kansil, Christine S.T. dan Cosmas R. Kansil. (2003). Hukum Perbankan Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita.
Komisi Informasi Republik Indonesia. (2020). Laporan Tahunan Komisi Informasi Republik Indonesia 2020. Jakarta: Komisi Informasi.
Macneil, Ian R. (1978). Contracts: Adjustment of Long-Term Economic Relations under Classical, Neoclassical, and Relational Contract Law. Northwestern University Law Review, Vol. 72, No. 6, Hal. 854-905.
Mahkamah Agung Republik Indonesia. (2022). Putusan Mahkamah Agung Nomor 567 K/Pdt.Sus/2022. Jakarta: Mahkamah Agung.
Marbun, Bonar N. (2008). Politik Hukum di Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Milne, Alistair dan Paul Parboteeah. (2016). The Business Models and Economics of Peer-to-Peer Lending. Brussels: European Credit Research Institute.
Otoritas Jasa Keuangan. (2020). Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi. Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan. (2019). Statistik Fintech Lending di Indonesia 2019. Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan.
Otoritas Jasa Keuangan. (2023). Annual Report Otoritas Jasa Keuangan 2023. Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan.
Pemerintah Republik Indonesia. (1992). Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 31. Jakarta: Sekretariat Negara.
Pemerintah Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42. Jakarta: Sekretariat Negara.
Pemerintah Republik Indonesia. (1999). Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 138. Jakarta: Sekretariat Negara.
Pemerintah Republik Indonesia. (2008). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 71. Jakarta: Sekretariat Negara.
Pemerintah Republik Indonesia. (2011). Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111. Jakarta: Sekretariat Negara.
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. (2021). Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan Nomor 789/Pdt.G/2021/PN.Jkt.Sel. Jakarta: Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. (2022). Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta Nomor 234/Pdt/2022/PT.DKI. Jakarta: Pengadilan Tinggi DKI Jakarta.
Posner, Richard A. (2011). Economic Analysis of Law. 8th Edition. New York: Aspen Publishers.
Rahardjo, Satjipto. (2009). Penegakan Hukum Progresif. Yogyakarta: Genta Publishing.
Republik Indonesia. (1945). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Perubahan Keempat Tahun 2002. Jakarta: Sekretariat Negara.
Salim, H.S. (2013). Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW). Jakarta: Sinar Grafika.
Shidarta. (2015). Hukum Perlindungan Konsumen: Konsep dan Harapan. Yogyakarta: Genta Publishing.
Subekti. (2014). Aneka Perjanjian. Bandung: Citra Aditya Bakti.
Subekti dan R. Tjitrosudibio. (2014). Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Jakarta: Pradnya Paramita.
Sunggono, Bambang. (2015). Metodologi Penelitian Hukum. Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Surbakti, Ramlan. (2010). Memahami Ilmu Politik. Jakarta: Grasindo.
The Asia Foundation. (2020). Digital Lending in Southeast Asia: Consumer Protection and Regulatory Challenges. Manila: The Asia Foundation.
Wirjono Prodjodikoro. (2003). Hukum Perdata di Indonesia. Bandung: Sumur Bandung.
World Bank. (2019). Financial Inclusion and Fintech in Indonesia: Opportunities and Challenges. Washington DC: World Bank Group.
Zetzsche, Dirk A., Ross P. Buckley, Douglas W. Arner, dan Janos Barberis. (2017). From FinTech to TechFin: The Regulatory Challenges of Data-Driven Finance. New York University Journal of Law and Business, Vol. 14, No. 2, Hal. 393-446.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Rahmat Giling, Hasnah Aziz, Nursalim, Mahmuddin, Dany Wahyu

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.




